Blitar Djadoel 2026 - Alun-Alun Kota Blitar Mendadak Jadi Mesin Waktu, Ribuan Orang Rela Antre Demi Nostalgia Ini!
- Jul 14, 2026
- sentulkotablitar
- seputar info blitar
Kota Blitar — Siapa sangka, alun-alun yang biasanya jadi tempat nongkrong santai warga Blitar, dalam lima hari ini berubah total jadi lorong waktu raksasa. Suara roda becak beradu aspal, kelinting sepeda onthel, sampai aroma jajanan jadul bercampur jadi satu suasana yang bikin pengunjung serasa balik ke masa lalu. Inilah Bazar Blitar Djadoel 2026 — dan tahun ini, digelar lebih megah, lebih niat, dan lebih "menghasilkan" dari edisi-edisi sebelumnya.
Pembukaan Bak Kirab Kerajaan, Bikin Warga Merinding
Acara resmi dibuka Rabu (8/7/2026), tapi drama sudah dimulai jauh sebelum gunting pita. Kirab becak dan sepeda onthel berangkat dari Rumah Dinas Wali Kota menuju Alun-Alun, jadi pembuka yang bikin bulu kuduk berdiri karena nuansa nostalgianya kental banget. Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin turun langsung memimpin rombongan, didampingi jajaran Forkopimda, bahkan Tenaga Ahli Menteri UMKM RI Fahmi Hendri Prasetyo sengaja datang dari Jakarta untuk momen ini — begitu menurut rilis resmi Pemkot Blitar.
Yang bikin beda, tahun ini panitia berani "buang" konsep lama yang serba mepet dan ganti dengan konsep open space yang jauh lebih luas. Area dibagi jadi beberapa zona sejarah yang benar-benar detail: Era Kerajaan (1300–1500), Era Pra-Kemerdekaan (1600–1900), Era Perjuangan Kemerdekaan (1900–1945), hingga Era Pasca-Kemerdekaan sampai 1970-an — dilengkapi dekorasi otentik di tiap zona, menurut catatan dari Antara News Jawa Timur. Bukan sekadar pajangan, tapi benar-benar dibuat biar pengunjung "merasakan" pindah zaman tiap beberapa langkah.
Sudah 15 Tahun Digelar, tapi Baru Sekarang Segila Ini
Ternyata, Bazar Blitar Djadoel 2026 ini bukan acara baru — sudah masuk penyelenggaraan ke-15! Tapi khusus tahun ini, panitia niat banget bikin nuansa jadulnya makin nendang. Kepala Disperindag Kota Blitar menyebut konsep tahun ini tetap pertahankan ciri khas tempo dulu, tapi ditambah lorong-lorong tematik yang menceritakan perjalanan sejarah Indonesia secara runtut, seperti dilaporkan Kabinetri.id. Tema besarnya, "Ngrembaka Kinarya Pinuju Praja Utama", intinya: sejarah bukan cuma buat dikenang, tapi jadi modal Blitar melangkah ke masa depan.
Bukan Cuma Nostalgia — Ini Ladang Uang buat UMKM
Di balik romantisme sepeda onthel dan koleksi keris antik, ada misi ekonomi yang serius. Tercatat 533 stan ambil bagian tahun ini — 165 stan dari instansi pemerintah dan sekitar 370 stan dari UMKM, PKL, dan pelaku ekonomi kreatif. Digelar pas musim libur sekolah, timing ini sengaja dipilih biar kunjungan membludak dan langsung "menyentuh" dagangan warga lokal.
Ambisinya pun nggak main-main. Pemkot Blitar berani pasang target perputaran uang sampai Rp1 miliar selama acara berlangsung, seperti dilaporkan beritajatim.com. Bahkan perwakilan Kementerian UMKM yang hadir memuji konsep ini sebagai contoh yang layak dicontek daerah lain, karena dianggap sekaligus jadi etalase produk lokal, ajang ketemu produsen-konsumen lintas generasi, dan pemicu UMKM untuk naik kelas.
5 Hari, 4 Era, dan Jadwal yang Bikin FOMO
Line-up acaranya beneran padat, cocok buat segala usia. Selain zona kuliner jadul yang jual punten, cenil, dawet, serabi, sampai es pleret, ada juga pusat kerajinan batik dan ecoprint, sudut barang antik dengan motor klasik dan uang kuno, plus panggung rakyat yang menampilkan keroncong, jaranan, sampai permainan tradisional kayak egrang dan dakon. Menjelang akhir pekan, ada lomba mewarnai bertema sejarah, lomba busana tradisional, sampai lomba foto sinematik, ditutup jalan sehat dan konvoi sepeda onthel di hari terakhir, Minggu (12/7/2026), berdasarkan jadwal yang dirilis Kabar Blitar.
Kenapa Ini Penting Buat Blitar (dan Bukan Cuma Buat Blitar)
Selama ini Blitar identik sebagai kota tempat makam Presiden Sukarno, tapi Bazar Blitar Djadoel 2026 menunjukkan ambisi yang lebih besar: menjadikan Blitar destinasi wisata sejarah yang bisa bersaing bukan cuma di Jawa Timur, tapi secara nasional. Dengan dukungan terbuka dari Kementerian UMKM dan sejarah kehadiran Wapres di edisi sebelumnya, event ini makin dilirik sebagai contoh nyata: kota kecil pun bisa mengubah sejarahnya sendiri jadi aset budaya sekaligus mesin ekonomi yang terukur.