Bung Karno, Pedagang Makam Bung Karno dan Literasi Jembatan Perjuangan
- Sep 28, 2024
- sentulkotablitar
- literasi
“… karenanya aku minta kepadamu para pembaca, untuk mengingat bahwa, lebih penting dari bahasa kata kata yang tertulis adalah bahasa yang keluar dari lubuk hati. Buku ini tidak ditulis untuk mendapatkan simpatisan atau meminta setiap orang suka padaku. Harapanku hanyalah agar dapat menambah pengertian yang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia tercinta ….”
Kutipan di atas kami dapatkan dalam Buku Cindy Adam, bukan untuk mencari simpatisan, namun lebih dari itu adalah untuk mengenal tentang Indonesia tercinta. Jika digambarkan secara sederhana secara fakta di lapangan mungkin dapat di gambarkan sebagai berikut. Ada Makam / Kuburan tokoh presiden pertama Republik Indonesia yakni Bung Karno di Kota Blitar. Siapakah Bung Karno ? ya presiden pertama Indonesia. Dalam terminologi sesingkat itu “ Makam Bung Karno adalah makam / kuburan Presiden pertama Republik Indonesia “ sudah menjadi daya tarik orang untuk mengunjungi, entah untuk berziarah, ingin mengetahui, atau mendapatkan wangsit biar bisa menjadi sosok pemimpin seperti Bung Karno.
Adakah hal yang lain perlu diketahui pembaca selain “Bung Karno sebagai Presiden Pertama Indonesia” un-sich? itulah yang mungkin akan kami uraian dalam pemaparan tulisan ini. Karena banyak hal yang tidak diketahui oleh masyarakat dan juga sekaligus adanya politik kepentingan untuk mengubur jejak-jejak Soekarno. Ada sisi positif dari aspek budaya terutama dari sisi mistis yang masih berkembang di masyarakat. Yang turut andil membangun dan mempertahankan keberadaan sosok Bung Karno. Seperti Bung Karno adalah seorang wali, Bung Karno masih hidup. Lalu ada cerita bahwa dalam keadaan carut marut bangsa, sosok tokoh sesepuh melihat dalam dimensi lain dari pantai selatan Nyi Roro Kidul, Bung Karno, Syekh Subakir sering lewat ngalor ngidul arah dari pantai selatan menuju utara candi Penataran untuk membahas situasi bangsa terkini. Narasi budaya yang sudah terbukukan lagi antara lain :
“ … di masa berikutnya, yaitu sejak masa pemerintahan raja-raja dari Kerajaan Kediri, Singasari, dan Majapahit, keberadaan dan peran serta satuan satuan komunitas yang sekarang terhimpun dalam sebuah wilayah dengan nama “Blitar” semakin nampak, bahwa wilayah ini merupakan penopang kekuatan ekonomi dan pertahanan negara dengan bukti banyaknya prasasti yang bermaknakan penghargaan dan hak keswantantraan, bangunan-banguna berupa candi tempat pemujaan maupun penyimpanan abu jenazah para raja-raja, yaitu abu jasad Anusapati disimpan Candi Sawentar, Ranggawuni di Candi Wleri, Raden Wijaya di Candi Simping, Tribuana Tungga Dewi di Candi Penataran dan kini pun jenazah Bung Karno disemayamkan di Blitar. Sehingga tidak berlebihan bila BLITAR dinyatakan atau diberi sebutan Bhumi Laya Ika Tantra Adi Raja ( BLITAR ) yang artinya Bumi tempat Pusara Raja Raja Agung Yang Berdaulat …”
Narasi ini juga ada yang gambarkan sedulur papat pancer limo, di mana Blitar dikelilingi empat petilasan raja. Sebelah utara Candi Penatara , sebelah barat Candi Mleri (Ranggawuni), sebelah selatan Candi Simping ( Raden WIjaya ) , sebelah timur Candi Sawentar (Anusapati) dan pancernya limonya adalah pusara Makam Bung Karno. Hal ini sengaja atau tidak sengaja namun realitanya adalah demikian.
Ada lagi tutur beberapa warga yang beberapa kali mendengar dan melihat para peziarah terutama dahulu sebelum jam malam kunjungan diberlakukan. Jika jelang pemilu atau pemilihan kepala daerah, maka pada tiap malam jumat tengah malam datang peziarah untuk mendapatkan wangsing. Jika dalam keheningan terjatuh sebuah benda ( berupa batu / keris atau lainya ) maka pertanda untuk menjadi kepala daerah akan terwujud.
Hal - hal mistis tersebut mungkin sampai sekarang masih berkembang, terlepas benar atau tidaknya. Namun setidak-tidaknya bisa menjaga eksistensi keberadaan sejarah tentang sosok Bung Karno. Bagi orang awam hal mistis atau diluar logis masih menjadi sesuatu yang laik jual yang bisa menarik daya keingintahuan tentang sesuatu hal. Contoh real yang bisa kita lihat adalah lukisan Bung Karno yang seolah seperti hidup karena ada gerakan detak jantung pada Lukisan Bung Karno yang terletak di Museum Bung Karno. Setidaknya ini sudah menjadi pintu masuk awal yang mudah dan menarik untuk mempelajari Bung Karno. “ Bung Karno masih hidup “ atau “ Bung Karno Sakti “ dan istilah istilah lainnya.
Sangat beruntung Kota Blitar dengan adanya Makam Bung Karno dilengkapi dengan pusat literasi tingkat nasional yakni Perpustakaan dan Museum Bung Karno yang lokasinya berdekatan dengan Makam Bung Karno. Namun apakah literasi saja cukup? Diskusi Bung Karno dengan Hatta dan Syahrir setelah keluar dari penjara Sukamiskin
“ dan siapa yang memimpin Bung? sebuah buku teks? lalu siapa yang menggerakan jutaan rakyat untuk berkumpul? untaian kata-kata? ini tak menggerakan seorang manusia pun. Bung tidak akan memperoleh kekuatan melalui untaian kata-kata. Belanda tidak takut pada untaian kata-kata. Mereka hanya takut pada kekuatan nyata, yang digalang dari kerumunan massa. Mereka tahu, upaya pencerdasan rakyat itu tidak akan mengancam kekuasaan mereka. Memang upaya pencerdasan itu membuat kita terhindar dari penjara, tetapi juga membuat kita terhindar dari kemerdekaan”
Pedagang Makam Bung Karno, dampak real bidang ekonomi kota Blitar
Kota Blitar adalah bentuk real bahwa Makam Bung Karno memberikan manfaat secara real dari sisi aspek ekonomi. Munculnya kios-kios pedagang dari kecil hingga besar. Sektor kuliner, kemudian transportasi tradisional seperti becak dan dokar, kemudian penjual bunga, penginapan untuk tamu, parkir untuk roda dua, roda empat dan bus pariwisata, penginapan hotel dari skala rumahan , kos, hingga hotel berbintang. ini merupakan gambaran sektor perekonomian yang berkembang karena adanya makam Bung karno. belum ditinjau lagi dari aspek pemikiran , pengetahuan, dan cita-cita Bung Karno yang perlu digali didalami dan dipraktekan untuk seluruh warga Indonesia.
Perkembangan ekonomi dari kota Blitar karena adanya makam bung karno adalah aspek kecil disamping aspek lain yang perlu dikembangkan dan digali. terutama untuk menjadi arahan bagi perkembangan bangsa Indonesia dalam pembangunan. Bayangkan saat perkembangan pembangunan Area Makam Bung Karno tanpa diiringi pembangunan Museum dan perpustakaan Bung Karno dan juga PIPP. maka nyaris perkembanganya mungkin tidak pesat seperti sekarang ini. Hal ini berdasarkan data dari dinas pariwisata dan kebudayaan Kota Blitar. Bahwa tingkat kunjungan lebih banyak ke museum dan perpustakaan Bung karno bila dibandingkan datang ke area Makam Bung Karno. Pada tahun 2022 jumlah kunjungan ke Museum dan Perpustakaan Bung Karno mencapai 1.1802.423 orang dan ini lebih banyak bila dibanding yang mengunjungi area Makam Bung Karno sebanyak 228.019 orang.
Berdasarkan data kunjungan tersebut menunjukan bahwa banyak yang berkunjung ke Makam Bung Karno, bukan hanya sekedar ziarah un sich ke Makam Bung Karno. Namun para wisatawan atau pengunjung ini juga meningkatkan literasi dan pengetahuan tentang apa dan siapa Bung Karno. Dari aspek tersebut meskipun ada perbedaan kunjungan antara ke Makam Bung Karno dan Museum dan perpustakaan Bung Karno ekonomi effectnya jika dijadikan satu kunjungan selama tahun 2022 mencapai satu juta orang lebih memberikan efek kepada usaha usaha ekonomi di lingkungan Bung Karno. Wisatawan ini melakukan kegiatan parkir, menggunakan sarana transportasi, belanja oleh oleh berupa busana/kaos, kerajinan atau kuliner dan mungkin ada juga memanfaatkan sarana penginapan.
Beberapa pedagang yang berhasil kami wawancarai antara lain, pedagang sempol ayam mas wahono, pedagang cilot, dan pemilik kios Bu Pur di PIPP, penjual bunga depan makam Bu Tris. Mas Wahono berasal dari wilayah jurang sembot, jam berangkat jual sempol sore hari setelah ashar sekitar jam 4 hingga malam hari sampai dengan dagangan habis. Tempat berjualannya berada di pojok dekat pintu tembusan masuk khusus pedagang kios utara makam Bung Karno. Awal mula berjualan di lokasi tersebut sempat ditegur oleh seorang petugas koordinator pedagang. setelah ditanya ternyata tetangga dekat dan mulai bertempat di lokasi pojok sisi timur. Mas Wahono yang sehari hari berprofesi petani ini, profesi sampinganya adalah jualan sempol ayam dan harganya sangat terjangkau dan murah. Untuk omset selama 1 minggu antara Rp 400.000 sampai dengan Rp 800.000,- jika ramai bahkan bisa tembus hingga Rp 1.500.000,-. “Jenenge wong dodol Mas ora mesti kenek dipatok olehe piro “ begitu ungkap Mas Wahono sambil menggoreng sempol untuk kami. Saat berjualan beliau dibantu oleh istrinya, dan dia sendiri membantu pedagang bakso yang berada di sampingnya sebagai tukang cuci piring bakso. “ Lumayan disambi karo dodol, timbangane dorong. Sewengi oleh Rp 35.000,- “ ungkap mas Yasin Wahono
Berbeda lagi dengan Bu Tris penjual bunga yang berada di depan pintu Makam Bung Karno yang menghadap ke barat. dengan teknik penjualan menjual bunga kepada orang orang yang parkir baik sepeda motor atau mobil yang masuk melalui pintu gerbang yang menghadap ke Barat. “Ki mau dengaren sepi mas padahal sebtu, dekwingi malah rame payu 20 … “ saat wawancara santai bersama Bu Tris. harganya cukup murah Rp 10.000 dapat 3 plastik paket bunga. Hal ini tentu berbeda dengan penjual bunga yang melayani pengunjung yang masuk melalui jalan kalasan yang turun dari becak. Harga 1 paket bunga di plastik di harga Rp 5.000,- dan mungkin terkesan agak memaksa agar cepat laku daganganya. Untuk distributor bunga atau pengepul bungan berlokasi di jalan Trunojoyo selatan jalan nomor dua atau tiga dari timur.
Beberapa pedagang yang kami wawancarai yang lainya adalah penjual pentol cilok horek. yang nongkrong di jalan kalasan utara jalan paling barat. Meskipun bukan milik dia pribadi / masih ikut orang. Omset satu minggu bisa Rp 500.000,- atau jika rame bisa tembus hingga Rp 1.500.000,-
Wawancara kami selanjutnya dengan Pak Sutris yang merupakan warga jurang sembot Rt 1 Rw 6 Kelurahan Sentul Kota Blitar. Pak Tris yang merupakan penggemar motor vespa ini dahulu adalah tukang bubut yang mengerjakan produk mahkota sangkar burung, kemudian alu lumpang dan lain-lain. Sempat saat musim korona orderan sepi beralih profesi menjadi tukang plafon galvanis dengan market daerah Blitar selatan. Seiring dengan berkembanganya waktu Pak Sutris mencoba inovasi produk baru, saat itu kebetulan dimintai tolong orang penjual makam yang minta dibuatkan produk alat garuk kayu. Selama ini supply terbanyak dari daerah kulonan / barat dari ngunut atau tulungagung. Setelah mencoba -coba akhirnya bisa dan berhasil. untuk bahan kayu serat yang bagus diambil dari bahan kayu jati. dan untuk memperolehnya pun sangat cukup mudah dengan kulak kayu limbah dari wilayah Lodoyo. Harga untuk grosir atau harga untuk dijual lagi antara Rp 2.500,- sampai dengan Rp 3.000,- sedangkan penjualan secara retail Rp 5.000,-. Beberapa tengkulak ada yang minta pesanan 5.000 sampai dengan 10.000 buah dalam satu bulan. Untuk memasok salah satu pedagang di Makam Bung Karno saja dalam satu minggu 400 pcs garukan selalu habis dan kurang-kurang. Ayah dari dua anak ini selalu melakukan proses produksi setiap harinya di tempat workshop kayu yang tidak begitu luas 2 x 5 meter yang tak begitu nampak dari depan. Dalam proses produksi dibantu oleh istrinya Mbak Sul. Dan pedagang yang kulak atau membeli produknya biasanya langsung datang kerumah Pak Sutris tanpa perlu memasarkan ke wilayah Makam Bung Karno
Pedagang lain yang kami wawancarai adalah Bu Pur yang merupakan warga dari Sentul Rw 2. Sudah berdagang sejak 14 tahun mulai dari asongan hingga saat ini sudah memiliki 2 kios di sekitar PIPP Bung Karno. Ibu dari tiga orang anak ini sudah mengantarkan 2 anaknya hingga bangku kuliah dan anak yang ketiga sekarang masih menempuh pendidikan SMA. “ Alhamdulillah Mas ta syukuri berapapun hasil penjualan hari ini , meskipun tidak seperti jaman sebelum korona “... sambil menghitung uang perolehan hari sabtu sekitar jam 2 siang, dengan perolehan hari itu sekitar Rp 400.000,-. “Secara omset per bulan saat ini tidak pasti mas yang penting disyukuri “. Satu bulan omset bisa tembus antara Rp 4 juta sampai dengan Rp 7 juta. Menurut pengakuan Bu Pur yang suaminya meninggal saat musim corona. Sebelum korona datang bisa mencapai omset antara Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per bulan. Karena sangat mudahnya mendapatkan pembeli yang turun dari Bus rame berdatangan ke kios beliau. “ Semua pedagang podo sambat ora koyo bien, sepi mas, paling pengunjung delok-delok nggek ngeyang murah “ ungkap Bu Pur. Untuk produk yang laris pada jaman dahulu adalah baju, batik, kaos dan daster bahkan sales datang ketika bawa barang dagangan di pagi hari dengan nilai total belanja Rp 2 juta hingga Rp 3 juta, sore hari bisa langsung membayarnya dari hasil penjualan hari itu. Namung sekarang sepi, untuk produk baju tidak begitu ramai. Sekarang yang ramai adalah kerajinan. Untuk produk yang berada dalam kios dari pembelian lokal antara lain kendang djembe, kendang jawa, calty, marakas, lumpang, otok-otok yang khas produksi lokal Blitar. Sedangkan yang lainya merupakan produk luar Blitar yang dijual oleh para sales-sales.Untuk segmentasi pembeli di sini rata rata menengah ke bawah mas, kalau jual produk dengan harga kulak mahal akan sulit menjualnya. cerita beliau tentang segmentasi pasar. Makam Bung Karno menjadi sumber penghidupan kami sekeluarga Mas, saat perawatan suami saya sakit hingga meninggal dan sekarang meskipun gubuk saya kecil masuk di gang sudah dua lantai walaupun belum sempurna. Ungkap beliau yang masih aktif ikut Senam Tera Indonesia. Makam Bung Karno sangat berperan penting dalam kehidupan warga kota Blitar.
Beberapa cerita tersebut adalah dampak secara ekonomi, ada lagi dari segi politis atau keyakinan seseorang tentang mistisisme Bung Karno. Mengaku dari militer, agar mengambilkan sisa potongan pohon yang berada di kawasan Bung Karno yang dianggap bernama pohon nogosari. Konon jika menggunakan tongkat berbahan nogosari pangkat akan segera cepat naik. ungkap dari pelaku pengrajin bubut dan ukir kayu. Biasanya termasuk limbahnya juga suruh dibawa/diserahkan kembali sebagai agar tidak terbuang sia-sia.
Mengangkat jenama lokal melalui jembatan literasi perjuangan
Blitar kota kecil menjadi tempat istimewa dan dikenang dalam perjuangan dan karier politik Bung Karno. Mulai saat Bapaknya Raden Sukemi dipindah tugaskan sebelumnya di Mojokerto kemudian ke Blitar. Saat liburan sekolah di Surabaya Bung Karno pergi ke teman-temanya daerah Wlingi. Dan pada saat itu gunung Kelud meletus dahsyat hingga kedua orang tuanya khawatir dengan Sukarno. Bahkan Pak Cokro sampai berangkat dari Surabaya menuju ke Blitar untuk melihat menjenguk murid kesayanganya yakni Bung Karno,
Ikatan perjuangan lainnya yakni saat Supriyadi dan para pemuda tentara PETA Blitar sudah memberitahukan tentang rencana pemberontakan kepada Jepang. Meskipung Bung Karno tidak menyetujui, tetap mendukung dengan segala resiko yang akan diterima oleh Supriyadi dan kawan-kawan pada saat itu.
Keterikatan yang tampak nyata hingga saat ini adalah bahwa Bung Karno disemayamkan terakhir di Blitar bersama kedua orang tuanya Raden Soekemi dan Ibu Ida Ayu Nyoman Rai. Banyak peristiwa peristiwa politik berdasarkan sejarah tutur yang ada di masyarakat, yang mungkin kita bisa merasakan miris untuk merasakanya, padahal Bung Karno sudah disemayamkan. Seperti proses perijinan pemakanan Bung Karno di taman Bahagia, saat itu tidak ada yang berani bertanggung jawab. Tokoh lurah sentul saat itu dengan berani bertanggung jawab untuk lokasi di Taman Bahagia bila terjadi sesuatu. Cerita lain era 70 - 80 an, bahwa siapapun yang berkunjung ke Makam Bung Karno saat itu wajib lapor dan tercatat di aparat militer saat itu.
Begitu banyak literasi sejarah tutur atau yang terbukukan yang perlu digali lebih mendalam dari sosok Bung Karno dan Blitar. Dalam tulisan kami sebelumnya kami mengangkat judul “Tabuh Bunyi Suara dari Tanah Para Raja” yang mengangkat produk kerajinan kayu dari Kelurahan Sentul berupa produk kendang djembe Afrika. Berdasarkan aspek sejarah, perkembangan tabuh bunyi atau alat musik di wilayah Blitar sudah terdokumentasikan dengan baik di relief candi Palah Penataran. Artinya perkembangan musik sebagai pengiring budaya atau kegiatan masyarakat wilayah Blitar saat itu sudah ada. Seiring berkembangnya waktu diikuti perkembangan tabuh bunyi atau alat musik era pelarian pasukan Diponegoro yang terwujud dalam kesenian reog Bulkiyo yang berkembang di wilayah Kemloko Nglegok Blitar. Kemudian berkembang sektor industri kerajinan kayu sejak zaman Belanda, berlanjut era 90 an dimana kendang djembe mulai diproduksi wilayah Kelurahan Sentul dan Kelurahan Tanggung. Imperialisme dan kapitalisme benar-benar nyata saat pembeli luar negeri datang dan merusak harga penjualan produk kendang. Selaras dengan apa yang diperjuangkan Bung Karno semasa hidupnya. Melawan kolonialisme, imperialisme dan mewujudkan ekonomi berdikari.
Dan Bung Karno tahun 1955 menggagas Konferensi Asia Afrika yang cukup diakui dunia sebagai upaya untuk menciptakan perdamaian. Produk kendang djembe sendiri asal muasalnya adalah dari Afrika. Menurut sejarah tutur pada Konferensi Asia Afrika delegasi kebudayaan dari Afrika salah satunya adalah pemain alat musik djembe. Mengapa kendang djembe begitu cepat masuk di berbagai pasaran dunia. Karena kendang djembe ini adalah sebuah bentuk alat musik yang mudah dimainkan oleh siapapun. Baik dimainkan dengan nada acarak, irama kontemporer, atau berdasarkan rhythm asli dari Afrika, semua orang bisa menikmatinya untuk mendengarnya.
Sebagai produk yang dibuat oleh masyarakat lokal Blitar, terutama wilayah pengrajin di Kelurahan Sentul adalah sebuah kebanggaan bisa membawakan produk ini dikenal luas dengan kualitas baik dan narasi atau cerita produk yang khas lokal Blitar. Dengan kendang djembe sebagai sebuah diplomasi bunyi untuk menggaungkan semangat nasionalisme dan sejarah cita-cita Bung Karno terhadap Indonesia tercinta ini. Dengan tabuh bunyian musik afrika yang dibuat oleh masyarakat lokal Blitar ini sebagai pintu masuk untuk mengajarkan nilai-nilai atau ajaran-ajaran Bung Karno yang selama ini mungkin perlu diketahui oleh masyarakat luas Indonesia dan dunia. Contoh contoh pelajaran yang bisa kita dapatkan dari sejarah Bung Karno, misalnya lulus dari sekolah di Bandung Bung Karno ditawari pekerjaan untuk membangun infrastruktur jalan oleh dosennya, namun ia menolaknya. Karena jika menerima pekerjaan proyek tersebut berarti Bung Karno sama saja membangun infrastruktur untuk keberlangsungan imperialisme Belanda di Indonesia. Nilai lain adalah ketika Bung Karno berjuang saat di buang di Pulau Ende beliau menjual tiket pertunjukan dari naskah yang dibuatnya. Dan juga menjual barang selundupan seperti kelambu yang dibawa oleh para pelaut dari Surabaya. Dengan kondisi keuangan yang terbatas termasuk menghidupi keluarganya, Bung Karno tetap berjuang untuk Indonesia tercinta. Bandingkan dengan perjuangan politisi sekarang ini …. (silahkan dipikirkan dan direnungkan sendiri)
Jembatan literasi perjuangan adalah sebuah jalan penting untuk disebarluaskan. Mengapa penting, karena sarana prasarana ada yakni berupa pusat literasi Perpustakaan dan Museum Bung Karno yang sudah lengkap dengan berbagai buku untuk dibaca dan dipelajari. Apakah teks buku saja yang harus kita dapatkan , tentunya hal itu tidak cukup. Perlu langkah dan action atau tindakan nyata bagaimana untuk mewujudkanya. Karena banyak nilai-nilai atau ajaran ajaran Bung Karno yang belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia.
“ Siapa mau mentjari mutiara, haruslah berani selam kedalam laut jang sedalam-dalamja ; siapa jang dengan ketjil hati berdiri dipinggir sahdja dan takut akan terjun kedalam air, ia tak akan dapat sesuatu apa ! “