"Cita Cita Menjadi Petugas Perpus" Mengenang Pramoedya Ananta Tour Di Bumi Bung Karno
- Feb 10, 2025
- sentulkotablitar
- literasi
Cita Cita Menjadi Petugas Perpus
“Inggih Mbak monggo…”, sapa kami kepada dua perempuan muda ketika memasuki lift perpustakaan Bung Karno dari lantai 2 menuju lantai pertama. “ Kelas berapa Mbak ?.... “ sapa basa basi seolah sok kenal sok dekat . “ Kelas 9 …. “ jawabnya denga senyum manisnya. “Cita - cita menjadi apa Mbak ? ….” sesi pertanyaan berikunya.
“Menjadi Petugas Perpustakaan … “ jawabnya dengan senyuman sumringah. Dan terkaget kaget ketika mendengarnya, sambil berdiskusi dengan mitra kecilku. “ Wow kereeennn, ga habis pikri, ada ternyata cita cita menjadi Petugas Perpustakaan “.
Analisa sederhana, mungkin lo ya, dan ini masih mungkin lo ya. Menjadi petugas perpustakaan itu menyenangkan bisa baca buku bermacam - macam. Pekerjaan hanya duduk duduk, melayani peminjaman buku, melihat komputer berlama-lama, sambil mengembalikan buku tercecer di meja ke rak semula. Dan yang lebih menggiurkan setiap bulan mendapatkan gaji dari negara. Apakah aspek ini dan kebebasan finansial ini yang menjadi landasan foundamental mbak-mbak kelas 9 tadi menjadi petugas perpustakaan. Atau ingin menjadi petugas perpustakaan setelah mengikuti diskusi tentang Pram 100 abad di Perpustakaan Bung Karno?
Sesi diskusi dimulai berdasarkan jam adalah jam 13.30 WIB di aula ruang koleksi khusus Bung Karno. Peserta yang datang sejak jam 13.00 sudah berdatangan dan lebih dari sepuluh orang. Atau diskusi ini menjadi menarik dan merangsang pustakawan karena ada sepuluh hadiah menarik bagi sepuluh pendatang pertama. Kata mas-mas Panitia Mas Anggar ( klo tidak salah ). “Diskusi ini adalah menjadi diskusi yang paling menarik karena dimulai sebelum jam ditentukan di jadwal acara dan dengan peserta diluar espektasi melebihi kapasitas, yang semula cuma lima atau sepuluh orang” wow keren.
Tidak ada narasumber yang special yang datang, yang special adalah semua pesertanya menjadi narasumber pada diskusi kali ini. Diskusi dipantik oleh mas Anggar, mas - mas Panitia yang menceritakan tentang buku buku pram tentang tetralogi. Bahwa ketika membaca buku pram adalah sebuah proses tidak langsung man benduduk, selesai. Pram tidak pernah membicarakan Sukarno, dan Pram mengangkat tokoh tokoh dalam tulisanya bukan kalangan pejabat dan ningkrat. Tokoh-tokoh yang diangkat adalah orang-orang biasa yang penuh dengan kejujuran, bahkan perlawanan terhadap kolonial saat ini.
Kemudian dilanjutkan pelemparan mic kepada peserta diskusi yang lain. Setelah membaca buku pram beberapa peserta diskusi sudah melahirkan buku, bahkan ada yang menuju ke cetakan kedua. Wow keren. Selanjutnya setelah pelemparan mick kepada empat sampai lima peserta dilanjutkan perspektif dari orang order baru #eh. Orang yang mengamati Pram semenjak order Baru yakni Mbak Budi atau Pak Budi Kastowo. Beliau hadir sejak perpustakaan Bung Karno belum ada hingga ada sampai dengan saat ini. dan hampir sudah 25 tahun. Kalau ga salah rumahnya pak Budi Kastowo ini deretan gong perdamaian sak-mengidul ( keselatan sampai dengan pertigaan ).
Pak Budi mengenal Pram karena diklat di Jakarta dan mendapatkan akses untuk membaca buku buku terlarang saat ini di ruang koleksi khusus perpusnas Jakarta. Menjadi koleksi terlarang karena isunya ada komunisnya tentang Bu Pram. Setelah dibaca sama mbah Bud, ternyata di cari sisi komunisnya beliau tidak menemukan. Sehingga menarik perhatian untuk mbah Bud ingin membacanya. Dalam diskusi kali ini mbah Bud persentase materi Pram vs Bung Karno mungkin masih 40 vs 60 persen. Masih dominan Bung Karno dalam pembahasan diskusi ini. Terlihat sekelumit di kertas HVS 7 sampai 10 baris dan itu pun tidak memenuhi kurang lebih seperempat folio catatan beliau tampak dari belakang.
Beberapa catatan panas di otak kami :
-
Diskusi yang adem anyep. Semoga tetap diadakan dan tidak kalah dengan literasi inklusi sosial yang komplet dengan umbo rampennya
-
Datang ke sini ingin bernostalgia dengan pram, saya kira ada adiknya pak pram hadir. Krn beberapa hari lalu adiknya pak pram masuk bicara.blitar
-
Kedua sya bagian nomor 12, tidak masuk 10 peserta pertama yang dapat mercendise
-
Tentang pram bebrapa di media rame. Di blora nama pram dijadikan jalan di protes ormas krn masuk tokoh kiri
-
Sekelumit kata indonesia paling merdeka adalah 2 tahun setelah 45, ngrokok rasanya enak dan benar benar bebas. Setelah itu baru muncul penjajah penjaha baru yang rakus dari bangsa sendiri
-
Menurut adik pak pram, banyak buku buku yang dibakar dan hilang.
-
Pertanyaanya kok perpus berani mengungkap pram, lain waktu dibahas marxisme sekali kali biar kita ke depan paham konsep menyeluruh dr bung karno
-
Dr absensi ada aktivis politik , dan euforia diskusi blitar ternyata menarik. Semoga perpus tetap selalu merawat terlepas ada anggaran untuk kegiatan serupa atau tidak ada anggaean. Biar sound systemnya tetap tanda kutip nyaring.
-
Mohon maaf wasalam
Menarik yang disampaikan Mbak mbak berkerudung yang di belakang, merasa kecewa dan magkel dengan tulisan Pram, kalau tidak salah setelah membaca Rumah Kaca. Tidak suka dengan sosok Minke yang genit. Dan juga alur buku dalam buku cerita pram adalah bukan alur yang diharapkan pembaca pada sesi endingnya. Yang semestinya harapan pembaca berakhir dengan indah eh ternyata tidak indah. Atau memang sengaja oleh Pram dibuat sedemikian rupa seperti itu, karena kita hidup di dunia. Kalau indah itu ya hidup di surga.
Quote Pram juga membuat menarik para pemirsah peserta diskusi, bahkan pintu masuk awal untuk mengenal Pram. Menarik juga pemaparan dari mas Bima yang masih SMP datang ke diskusi adalah untuk mengetahui tentang apa itu bincang-bincang dengan mengajak teman temanya lainya sekitar 5 orang.
Berikutnya kata mas Panitia dalam sesi akhir, semoga dengan diskusi Pram ini menjadi pemantik api, seperti tokoh Bung Karno Bung Hatta untuk menghidupkan spirit nasionalisme bukan hanya sampai Indonesia Emas 2045 tapi untuk Indonesia selama-lamanya. Bukan karena semangat Nasi van Sego ketika berebut tumpeng saat grebeg Pancasila, tapi lebih dari itu mengembangkan semangat Nasionalisme di Bumi Bung Karno