Hilangnya Hotel Sakura, Daya Magis Kekuatan Kapital Menghilangkan Sejarah

  • Feb 15, 2025
  • sentulkotablitar
  • literasi

Hilangnya Hotel Sakura, Daya Magis Kekuatan Kapital Menghilangkan Sejarah

 

Topik Hotel Sakura cerita penutup yang diungkapkan Pak Indra Perpus pada sesi akhir penutup Diskusi di Perpustakaan Bung Karno lantai dua. Ini adalah jembatan penyambung dengan topik PETA pada tanggal 14 Februari 2025 dengan rangkaian peristiwa yang terjadi hari ini Jumat Pahing. Di Museum Taman Plaza PETA ada pertunjukan drama kolosal dengan sutradara Redy Wisono. Dan diskusi KIM di rumah kediaman Bale Mbah Bendo Kota Blitar.

 

Hilangnya Hotel Sakura, mengapa hilang? karena hotel sakura menjadi saksi yang hilang tempat pejabat Jepang di tembaki oleh pasukan Blitar. Jejak Hotel Sakura beberapa pendapat ada yang mengatakan di Gedung BNI Kota Blitar, ada juga yang menyebutkan di perempatan Apotik Lovi jl Ahamd Yani, ada yang mengatakan dekat dengan pasar legi. Dan beberapa versi lainnya. 

 

Dalam penulisan ini menyampaikan hasil cerita dan hipotesa dan mungkin ada juga fakta. Para pembaca bebas untuk menjadi hakim dalam tulisan ini. Sebagai upaya pembenaran dan bersama belajar meluruskan sejarah. kritik komentar dan saran kami buka secara lebar dari pintu awal agar tulisan ini bisa bebas dan sebebas bebasnya. Lanjut …

 

Hotel Sakura hilang, karena bisa dijadikan sebagai saksi bisu tentang peristiwa yang sangat penting pada tanggal 14 Februari 1945. Namun tertelan begitu saja oleh waktu, dimana sekarang dan berubah menjadi apa? kita semua tidak tahu dimana keberadaanya. Yang jelas hotel itu dibongkar karena tidak laku atau karena kebijakan kita semua tidak tahu. Minimal jika kita mengetahuinya bisa dijadikan cerita kepada anak cucu generasi penerus. Namun apa daya jika dalam diskusi hanya terdiri dari beberapa peserta pelajar, wartawan, tokoh senior, pustakawan yang tidak mempunyai daya pengaruh kebijakan untuk menyelamatkan cagar budaya penting di wilayah Kota Blitar yang terkait dengan PETA, seperti hotel Sakura. Bapak Ihwan menceritakan bahwa salah satu rumah milik tentara PETA ( wisma Muradi ) dijual dengan harga 12 melyard.

 

Artinya apa ? daya magis kapitalisme atau kekuatan modal bisa merubah suasana , bangunan bahkan bisa dimungkinkan mengaburkan sejarah. Mungkin Bung Karno benar dengan sloganya Jasmerah yang artinya …. melupakan atau meninggalkan , monggo dicek dan dibaca lagi di pidato Bung Karno.

 

Hasil diskusi sore di perpustakaan, dihadiri oleh para generasi gen z. Yang menyampaikan bahwa Pemberontakan PETA gagal, perlu layak dicontoh. Jangan takut gagal terhadap sesuatu yang ingin dicoba dan ini layak untuk dicontoh. Pemikiran lain diungkapkan oleh Mbah  Budi yang menceritakan tentang sejarah masa kependudukan Jepang dengan gaya pikir ala Sukarno ungkap beliau. Bercerita tentang bacaan Sukarno ada dua buku penting yang menjadi rujukan, sehingga memprediksi 16 tahun setelah beliau mengungkapkan Indonesia akan merdeka. Buku bacaan Sukarno judulnya apa ? nanti kita tanya ke beliaunya. Beliau juga menceritakan dari analisis Bung Karno bahwa ketika kekuatan militer masing masing negara saat itu sudah mumpuni maka meletuslah perang dunia ke II. Tak heran jika Pearl Harbour dibom habis habisan di saat hari minggu ketika orang Amerika pada leyeh leyeh santai

 

Kembali ke Supriyadi, diceritakan oleh Pak Ihwan bahwa Supiyadi adalah tokoh penting dalam perjuangan wilayah Blitar dan tentunya berpengaruh besar terhadap perjuangan Bangsa Indonesia. beliau bercerita dengan menggelora hingga meneteskan air mata karena speacless. Beberapa tokoh dan keluarga tentara PETA masih ada yang beliau kenal, sehingga menitipkan pesan agar bisa dituliskan sejarah cerita cerita yang belum terbukukan. Termasuk Bu Prayit Wajik Kletik, napak tilas hingga Gunung Gedang, dan beberapa pesawat yang sekarang ada di TMP adalah berkat perjuangan orang orang Blitar yang berada di Jakarta

 

Dilanjutkan dengan Pak Budi, Pak Indra, Pak Yanuar, Mbak Ade yang juga pernah menulis sekilas terkait dengan Supriyadi. Hadir pula mas Ferry Riyandika yang menulis tentang PETA yang dalam beberapa bulan kedepan bukunya akan launching bersama Perpustakaan Daerah Kota Blitar.

 

Catatan kami bahwa di Perpustakaan Bung Karno, terdapat 3 buku yang membahas tentang Supriyadi, sedangkan lainya ada 3 sampai dengan 4 buku tentang PETA yang membahas kependudukan Jepang di Indonesia. Artinya bahwa literasi tentang Supriyadi menjadi sangat minim lebih banyak aspek cerita dari satu mulut ke mulut lainya yang belum terbukukan. Apakah ini ada upaya pengaburan sejarah tentang Supriyadi, sehingga muncul banyak versi tentang Supriyadi. Termasuk munculnya buku Mencari Supriyadi, yang sekilas becerita mengaku sebagai Supriyadi. Termasuk literasi tentang Blitar yang ditulis oleh Mbah Gudel yang sekarang arsipnya atau naskah aslinya jumlahnya terbatas. Terkait dengan hal tersebut termasuk pementasan drama kolosal di monumen Plaza PETA yang menurut Bapak Ihwan selama 6 kali pementasan naskah yang ditampilkan berbeda beda. Termasuk Supriyadi mempunyai kekasih.

 

Hipotesa lain yang muncul : 

  1. Apakah Supriyadi meninggal, menghilang, moksa atau dibunuh

  2. Apakah Bung Karno mengetahui tentang Supriyadi, keberadaanya, ceritanya, dan mungkinkah ada kompromi dengan Jepang 

 

Hipotesis atau pikiran nakal atau berandai-andainya muncul karena dikaitkan dengan analisis berdasarkan hal yang sudah terjadi. Bahwa Sukarno mengetahui Pemberontak Supriyadi walaupun tidak mengizini dan hanya boleh khusus anggota Peta di Blitar saja. Jika mengetahui Supriyadi meninggal karena dibunuh Jepang, maka pasti akan muncul pergolakan pemberontakan PETA di daerah daerah lain. Mungkin ada kompromi Jepang dengan Pak Karno agar berita Supriyadi tidak diviralkan jika istilah saat ini. Karena momentumnya belum pas. Bahwa ada pemberontakan PETA yang lain selain di Blitar, termasuk di Aceh, Kalimantan dan daerah lain. Cuma yang lebih berani dan frontal adalah di Blitar. Bung Karno sebagai strategi politik yang mahir tentunya mengerti situasi ini, bagaimana menempatkan Supriyadi dalam sejarah perjuangan termasuk mengangkatnya menjadi menteri Keamanan Rakyat Indonesia walaupun tidak datang di Jakarta.

 

Lanjut pada pertemuan malam hari yang digagas oleh rekan rekan KIM ( Kelompok Informasi Masyarakat ) yang merupakan pertemuan rutin tiap dua bulan sekali. Kebetulan berlokasi di Bale Mbah Bendo. Sekaligus pada acara tersebut launching podcast Wasiat yang digagas oleh KIM Warta Bendo. Hadir di pertemuan tersebut Pak Camat, Bu Sek Cam, Bu Lurah, Mas Pendi, bu guru lainya, KIM Kauman, KIM Sentul, Mas Betet dan sesi jelang malam hadir Mas Yanu, Mas Ferry, Mas Pandu menjadikan suasana makin hangat dalam diskusi hingga larut malam sampai jam 12 lebih. Pertama dibuka oleh Bu Guru MC, lanjut dengan sambutan Mas Pendi, Mbah Camat dan tayangan film Wasiat. Dalam film dengan durasi 15 menit menceritakan tentang sejarah Mbah Alif atau Mbah Bendo atau Mbah Gimbal julukan di Ponorogo. Podcast seri satu masih bersambung dan monggo di like dan subskreb. Banyak catatan catatan penting dari sanak keluarga yang kebetulan disampaikan oleh Pak Agung, sedangkan cucu Mbah Bendo yang sekarang masih ada antara lain Ibu Siti Aminah.

 

Mbah Bendo sendiri adalah dikenal sebagai guru spiritual Supriyadi. Supriyadi adalah orang Trenggalek yang menjadi pasukan PETA di Blitar. Mohon maaf jika ceritanya meloncat loncat karena ditulis dengan gaya sak elinge. Beberapa poin diantaranya sebagai berikut : 

 

  1. Mbah Bendo sendiri berasal dari daerah Jogjakarta, 

  2. Bahwa kuburan seorang murid tidak boleh di barat makam gurunya, termasuk Sukarno yang mungkin juga murid Mbah Bendo

  3. Ada tokoh sepuh yang sekaligus momong Bung Karno ketika di Blitar yakni mbah ….

  4. Ada tokoh tokoh Bendo dua tokoh mbah kasan dan mbah … yang memperebutkan cikal tentang siapa yang babad awat kawit mbah Bendo

  5. Ada cerita murid kinasih antara Supriyadi dan dan Kinasih

  6. Ada tempat Gondok yang dijadikan tempat wejangan untuk Supriyadi yang berada di sekitar Bale Mbah Bendo

  7. Ada padi dan kapas dan wayang Kresna yang jumlahnya 8 dan 17 jauh sebelum kemerdekaan terjadi

  8. Sebelum pemberontakan Supriyadi sehari sebelumnya sowan dahulu ke mBah bendo dan sehari setelah pemberontakan juga kembali ke rumah Mbah Bendo sebelum lari ke bayat banten

  9. Pak Puh dari Pak Agung adalah sosok yang selalu membawakan bekal dari rumah mbah Bendo menuju ke tangsi yang diberikan kepada Supriyadi

  10. Ruang Bale tamu adalah tempat dimana bertemu para tokoh, terutama kursi merah tempat para tentara datang untuk belajar kepada Mbah Bendo

  11. tahun 2002 pernah didatangi team SILET RCTI yang dipandegani oleh dosen atau dokter UI yang ujung ujungnya mencari dimanakah SUpriyadi

  12. Sedangkan pada literasi tertulis dari Jakarta terjemahan bahasa Belanda Mbah Bodo Bodo 

  13. Ada makam di pakunden atau tanjung sari juga mempunyai hubungan dengan mbah Bendo

  14. Keturunan Mbah Bendo sudah menyebar dimana-mana termasuk sudah ditata mbah Bendo, di kerenceng, gandusari, jiwut dll

  15. Makam Pak Putuharjo pengibar Bendera di monumen potlot dimakamkan di sukosewu

 

Event dengan anggaran NOL adalah sangat memungkinkan dilaksanakan, dengan menggunakan kekuatan jaringan. Nyatanya event bisa berjalan dengan lancar yang telah dilakukan oleh Mas Betet Kunamsinam. Setidak-tidaknya birokrasi mendukung tanpa harus berbelit dengan surat ala birokrasi. Minimal datang adalah sebuah penghargaan yang tinggi terhadap event rakyat.