Sentul, Jendela Kota Blitar: Kisah Leluhur, Perjuangan, dan Tradisi Bersih Desa
- May 25, 2025
- sentulkotablitar
- literasi
"Jika jejak masa lalu bisa bicara, maka Sentul akan menyuarakan sejarah yang tak hanya tua, tapi juga penuh makna dan kekuatan." Begitu yang terlintas dalam benak kami saat mendengarkan kisah dari Pak Eko Wiadi, salah satu tokoh masyarakat di Kelurahan Sentul, Kota Blitar. Bertempat di kawasan yang kini dikenal sebagai jantung ekonomi dan gerbang pariwisata Blitar, Sentul menyimpan narasi panjang—tentang pelarian laskar perang, tradisi luhur, hingga semangat gotong royong yang tetap menyala sampai hari ini.
Jejak Awal: Dari Hutan Belantara ke Sentul yang Ramai
Kisah bermula pasca Perang Diponegoro (1825–1830). Kala itu, beberapa laskar pejuang bersembunyi dan mencari tempat aman. Empat tokoh pelarian, di antaranya Mbah Sokerto dan Mbah Swongso, menetap di kawasan yang masih hutan lebat. Mereka membuka lahan, menyatu dengan alam, dan pada suatu hari, di tepi Kalicari, mereka menemukan pohon sentul yang sulit ditebang.
Mbah Sokerto pun bermunajat pada Tuhan agar pohon itu bisa dibuka sebagai pertanda dimulainya permukiman. Doanya dijawab. Pohon sentul itu akhirnya bisa ditebang, dan sejak saat itu, beliau bersabda, "Sak mben ono jenenge panggonan iki Sentul."—kelak tempat ini akan dikenal sebagai Sentul.
Dari Telatah Menjadi Kelurahan
Sebelum resmi menjadi kelurahan, Sentul hanyalah sebuah telatah (wilayah tradisional). Pada tahun 1982, seiring pemekaran Kota Blitar menjadi 21 kelurahan, Sentul pun diresmikan. Dari situ, sistem pemerintahan berubah: dari perangkat desa pilihan masyarakat yang digaji lewat bengkok (tanah kas desa), menjadi struktur kelurahan dengan aparatur sipil negara.
Beberapa bengkok peninggalan masa lalu masih ada hingga kini, seperti di daerah Samanan—area yang kini sedang dibangun fasilitas publik baru.
Dusun-Dusun Bersejarah dan Peran Strategis Sentul di Masa Revolusi
Sentul bukan hanya tempat pelarian laskar, tapi juga saksi sejarah perjuangan kemerdekaan. Dalam masa penjajahan Belanda, kawasan ini menjadi medan taktik para pejuang Indonesia untuk menghambat pergerakan pasukan kolonial. Di kawasan yang kini dikenal sebagai Dusun Jatimulya atau Djoglo Djatimalang, para pemuda memotong pohon jati di malam hari agar Belanda tidak bisa mengejar laskar revolusioner.
Jejak sejarah ini tak hanya terekam dalam kisah lisan, namun juga dalam nama dusun dan petilasan tokoh seperti Mbah Irogati, Mbah Trenggulun, Mbah Randu Putih, dan tentu saja Mbah Sokerto. Mereka adalah pionir pembuka lahan dan simbol spiritual masyarakat Sentul.
Tradisi Bersih Desa: Bukan Sekadar Seremoni
Di tengah geliat modernisasi, Kelurahan Sentul tetap menjaga tradisi luhur: Bersih Desa atau dikenal juga sebagai Nyadran. Tradisi ini diwarisi dari era Majapahit dan masih lestari hingga kini.
Makna filosofisnya sangat dalam: mengenang leluhur, menyadari asal-usul (sangkan paraning dumadi), dan memperkuat ikatan sosial. Warga Sentul dari berbagai usia—dari anak-anak, pemuda, hingga orang tua—turut serta membersihkan lingkungan, ziarah ke makam para pendiri desa, serta menggelar tasyakuran bersama.
Menurut Pak Eko, tradisi ini bukan hanya kegiatan seremonial, tapi juga media pembelajaran sejarah lokal. Ia berharap generasi muda dapat menggali nilai-nilai gotong royong, kearifan lokal, dan kekuatan cerita dari kegiatan ini.
Sentul Kini: Dari Kawasan Pinggiran ke Pusat Ekonomi Kota
Perkembangan Sentul kini luar biasa. Dari kawasan yang dulu dianggap "pinggiran", kini menjadi wajah Kota Blitar. Di sinilah berdiri Pusat Informasi Pariwisata dan Perdagangan (PIPP)—magnet keramaian yang menarik pengunjung dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan luar negeri.
Bayangkan, menurut data yang disebutkan Pak Eko, di kawasan Sentul terdapat lebih dari 300 tukang becak, 200 pedagang asongan, dan puluhan kios yang menghidupi ribuan warga. Sentul tumbuh sebagai kawasan ekonomi lokal yang dinamis—bukan hanya untuk warga Blitar, tapi juga bagi para pencari nafkah dari Kediri, Nganjuk, hingga Batu.
Harapan untuk Masa Depan
Pak Eko menyebutkan satu istilah yang menarik: Sentul adalah jendela Kota Blitar. Siapa pun yang datang ke Blitar—entah untuk ziarah ke Makam Bung Karno atau sekadar belanja oleh-oleh—pasti akan melewati Sentul. Maka wajah Sentul adalah cerminan wajah kota.
Beliau berharap Sentul ke depan bisa dikembangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kota Blitar, dengan pengelolaan yang inklusif, modern, namun tetap berpijak pada akar sejarah dan kearifan lokal.
“Bersih desa adalah titik temu antara masa lalu, masa kini, dan masa depan,” ujar Pak Eko dengan nada mantap. “Jika bisa dikelola dengan baik, maka Sentul bukan hanya jendela, tapi juga mercusuar bagi Blitar.”
Catatan Akhir
Kisah tentang Sentul bukan hanya urusan masa lalu. Ia adalah panggilan untuk generasi kini—bahwa kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga akar, menumbuhkan batang, dan memetik buah kemajuan. Dari Kalicari hingga Jati Malang, dari Mbah Sokerto hingga anak-anak sinoman, cerita ini terus hidup dalam denyut warga Sentul.
Jika Anda mencari inspirasi dari sebuah kelurahan yang mampu menjaga warisan leluhur sembari menyongsong masa depan, Sentul di Kota Blitar adalah jawabannya.
Rahayu.