Startup Hidroponik Artisan Green Bangun Lahan Baru, Tingkatkan Produksi pada Akhir 2025
- Mar 18, 2025
- sentulkotablitar
- literasi
Singapura – Startup hidroponik dalam ruangan asal Singapura, Artisan Green, mengumumkan rencana pembangunan lahan kedua dan peningkatan produksi pada akhir 2025. Langkah ini diambil sebagai bagian dari kerja sama dengan perusahaan teknologi Jerman, Siemens, untuk menerapkan sistem manajemen pertanian yang meningkatkan hasil panen dengan konsumsi energi dan air yang lebih rendah.
Ekspansi Skala Besar Artisan Green, yang didirikan lima tahun lalu, saat ini mengoperasikan lahan pertanian hidroponik di Kallang seluas sekitar 300 meter persegi. Pendiri Artisan Green, Ray Poh, mengungkapkan bahwa lahan baru yang direncanakan akan memiliki luas produksi jauh lebih besar, yakni 5.500 meter persegi.
“Kami telah mengerjakan proyek ini sejak lama dan yakin bahwa teknologi yang kami kembangkan sangat cocok untuk skala yang lebih besar,” ujar Poh dalam wawancara di konferensi Industrial Transformation Asia-Pacific di Singapore Expo.
Poh menambahkan bahwa Artisan Green akan mengikuti tender lahan pada bulan Desember dan optimis akan mendapatkannya. Jika berhasil, pembangunan akan dimulai pada kuartal kedua tahun depan dan diperkirakan selesai dalam 12 hingga 15 bulan.
Kemitraan dengan Siemens untuk Pertanian Berkelanjutan Pada 18 Oktober 2023, Artisan Green menandatangani perjanjian kemitraan dengan Siemens untuk mengembangkan sistem manajemen pertanian terintegrasi yang sangat skalabel. Sistem ini akan mengandalkan otomatisasi dan digitalisasi dengan fokus pada ilmu tanaman untuk mendukung operasi pertanian yang berkelanjutan.
“Kemitraan ini memungkinkan kami meningkatkan kualitas dan hasil panen sekaligus mengurangi jejak karbon, serta menghemat konsumsi air dan energi,” ujar Poh.
Isabel Chong, Kepala Digital Industries Siemens di ASEAN, menyoroti ketergantungan Singapura yang tinggi terhadap impor pangan, yang mencapai lebih dari 90 persen dari total pasokan makanan negara tersebut. Oleh karena itu, Siemens melihat kebutuhan mendesak untuk inovasi pertanian pintar guna meningkatkan produksi pangan lokal.
Dampak terhadap Produksi dan Pasar Saat ini, Artisan Green memasok produk segar ke 41 supermarket di Singapura serta platform online seperti RedMart dan GrabFood. Sekitar 90 persen penjualan berasal dari toko fisik, sementara sisanya dari saluran online.
Dengan ekspansi lahan baru, Artisan Green menargetkan peningkatan produksi dari satu ton menjadi 25 ton sayuran hijau per bulan. Kapasitas ini cukup untuk memenuhi lebih dari 134.000 porsi makanan per bulan.
Selain ritel, Artisan Green juga berencana memasuki segmen layanan makanan dengan memasok mikrogreens untuk restoran dan hotel. Poh optimis bahwa dengan peningkatan skala produksi, harga jual dapat ditekan sehingga lebih kompetitif.
Mendukung Ketahanan Pangan Singapura Proyek ini selaras dengan tujuan ketahanan pangan Singapura “30 by 30”, yaitu memenuhi 30 persen kebutuhan gizi nasional dengan produksi lokal pada tahun 2030.
“Dengan sistem manajemen pertanian baru ini, kami tidak hanya meningkatkan produksi dengan biaya lebih rendah, tetapi juga menyediakan produk segar berkualitas tinggi dengan harga terjangkau bagi masyarakat Singapura,” pungkas Poh.
Produk unggulan Artisan Green saat ini adalah bayam bayi (baby spinach), yang umumnya diimpor dari Amerika Serikat, Eropa, atau Australia. Namun, dengan teknologi pertanian dalam ruangan, Artisan Green mampu menanam bayam bayi tanpa pestisida dengan masa simpan lebih lama.
“Kami bertekad menetapkan standar baru dalam operasi hidroponik dan pertanian berteknologi tinggi, baik di Singapura maupun dunia,” kata Poh.