Stigma Stunting, Edukasi & Sosialisasi Sangat Penting
- Oct 06, 2024
- sentulkotablitar
- kesehatan, literasi
Stigma stunting menjadi permasalahan tersendiri bagi orang tua, kader kesehatan, dan tentunya bagi pihak puskesmas setempat. Tidak semua orang tua menerima dengan lapang dada jika anak bayinya dianggap mengalami kekurangan gizi. Pihak orang tua, terutama seorang ibu selalu merawat bayinya dengan makanan yang cukup juga dirawat dengan baik. Tetapi seorang ibu akan merasa sakit hati bila disebut anaknya mengalami stunting. Ini menjadi salah satu topik usulan dari peserta dalam kegiatan MMD ( Musyawarah Masyarakat Desa ) Kelurahan Sentul yang diadakan pada hari Jumat 4 Oktober 2024 di Balai Pepabri Kantor Sementara Kelurahan Sentul. Hadir pada kegiatan tersebut Bapak Lurah, Ibu Ketua Kader PKK, petugas dan dokter dari Puskesmas Kepanjen Kidul, Bapak Babin Kantibmas, Babinsa, Perwakilan ketua RT, RW, tokoh masyrakat dan undangan lainya.
"Siapa yang berhak memberikan status stanting?" status stunting yang berhak memberikan adalah dokter dari Puskesmas. Penyampian dan komunikasi dari kader posyandu sebagai garda terdepan di masyarakat perlu menyampaikan dengan baik dan komunikasi yang hati-hati terhadap masalagh stunting. Jika fatal dalam menyampaikan akan membuat orang tua dari bayi akan enggan untuk kembali pergi ke posyandu, karena sakit hati dengan kader posyandu. Disinilah perlunya kerjasama, pembinaan, dan sosialisasi yang baik antar berbagai pihak untuk menangani masalah stunting. Bila terjadi berat badan kurang, atau lingkar kepala, atau tinggi badan kurang, pihak kader posyandu menyampaikan dengan baik agar mengkonsultasikan lebih lanjut ke pihak puskesmas tentang kesehatan anak atau asupan gizi lebih lanjut. Dari sinilah pentingnya edukasi kesehatan bagi semua pihak agar tidak terjadi miss-komunikasi antara orang tua bayi, kader kesehatan, dan puskesmas. Bila terjadi kasus stunting dengan adanya kolaborasi dan komunikasi yang baik, maka permasalahan ini bisa ditangani, tanpa perlu menyalahkan pihak pihak lain.
Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting, faktor ekonomi keluarga juga belum tentu menjadi faktor utama terjadinya stunting pada anak. Misal terdapat contoh kasus pada keluarga ekonomi berkecukupan. Namun setelah diperiksa mengalami tinggi badan kurang sesuati standart buku KMS ( kartu menuju sehat ). Setelah diselidiki dan dipelajar, faktor yang menjadi kendala adalah karena ibu dan bapak sibuk bekerja sehingga kurang memperhatikan tumbuh kembang dari anaknya.
Dalam kegiatan tersebut disimpulkan beberapa masalah pokok yang akan dijadikan sebagai bahan untuk musyarawarah tingkat lanjut untuk menjadi program usulan di kemudian hari diantaranya sebagai berikut :
- 91,2 % wanita usia subur di kelurahan Sentul belum melakukan pemeriksaan IVA. Penyebabnya karena takut diperiksa, khawatir diketahui penyakitnya. Ibu ibu tidak mau diperiksa karena malu dan takut biayanya mahal. Tindak lanjutnya adalah sosialisasi tentang pentingnya kanker servik ke masyarakat dan adanya pamflet atau media informasi yang disebarkan kepada masyarakat
- Adanya Ibu yang belum menimbangkan bayi dan balita ke posyandu. Dengan penyebab karena ibunya bekerja dan anak balita di penitipan. Sebagai tindak lanjut adalah dilakukan kunjungan untuk dilakukan penimbangan dan kedua Ibu balita menyampaikan hasil penimbangan ke kader posyandu
- 38,8 % masyarakat sentul berisiko menderita penyakit tidak menular ( diabet dan hipertensi ). Dengan penyebab kurangya info tentang pengetahuan penyakit tersebut. Dan upaya tindak lanjutnya adalah adanya pamflet /media informasi untuk disebarkan kepada masyarakat