TRIP dan Blitar: Jejak Pengabdian Pasukan Pelajar dalam Menegakkan Republik

  • Apr 07, 2025
  • sentulkotablitar
  • sejarah & budaya

TRIP dan Blitar: Jejak Pengabdian Pasukan Pelajar dalam Menegakkan Republik

Blitar, Medan Pengabdian Terakhir Pasukan TRIP

Kalau Surabaya dikenal sebagai tempat kelahiran pasukan pelajar TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar), maka Blitar adalah tempat pengabdian akhir mereka. Di kota inilah TRIP—yang telah bergabung dalam Brigade 17 Detasemen I TNI—menjadi bagian dari pemerintahan militer dan bahkan menerima kekuasaan secara resmi dari militer Belanda melalui “Plaatselijk Militeir Commandant”.

Selama masa perang gerilya, pasukan TRIP menguasai hampir seluruh wilayah Kabupaten Blitar, kecuali kota. Mereka tak hanya bertahan dengan kekuatan sendiri, tapi bersatu dengan rakyat, menjadikan perjuangan sebagai bentuk nyata dari semangat kolektif antara tentara dan masyarakat.


Persamaan Antara Surabaya dan Blitar dalam Sejarah TRIP

Baik di Surabaya maupun di Blitar, pasukan TRIP lahir dan bergerilya bersama rakyat. Di kampung-kampung Surabaya, mereka tumbuh. Di desa-desa Blitar, mereka bertahan. Dukungan rakyat Blitar yang ikhlas dan tulus menjadi kekuatan utama TRIP menegakkan Republik Indonesia.

Contoh nyata adalah warga desa Gadungan yang mengenang gugurnya Dan Ton Cemplon dan kawan-kawannya di daerah itu. Sementara Pak Samuji di Desa Salam menyediakan rumahnya untuk TRIP sekaligus menjadi penghubung informasi intelijen dari kota.


Peran Rakyat Desa dalam Mendukung Perjuangan TRIP

Dukungan masyarakat tak hanya sebatas tempat tinggal dan makanan. Lurah Kedawung, misalnya, turut mengerahkan anak-anaknya sebagai kurir dan penyedia obat-obatan untuk pasukan. Para pemuda desa Ponggok membentuk tim keamanan desa untuk membantu TRIP berjaga.

Bahkan, pelajar putri di kota Blitar membantu dengan memonitor siaran radio untuk mengumpulkan berita penting. Warga menjadi kurir, informan, dan penjaga pengintai untuk mendeteksi patroli Belanda secara cepat. Rakyat menjadi bagian dari perjuangan, bukan hanya pelengkap.


Pemerintahan Militer TRIP di Blitar

Menjelang gencatan senjata (ceasefire), TRIP harus mengambil peran sebagai unit pemerintahan militer. Dalam briefing akhir Juli 1948, Dan Kie IV TRIP Ismail Kartasasmita menunjuk Soewarno sebagai Komandan ODM Blitar, Soerjadi sebagai Asisten Wedana, dan Soenardi sebagai petugas Palang Merah.

Pada hari “H”, Sang Saka Merah Putih berkibar dengan gagah di Kantor ODM Blitar. Para pemuda TRIP berdiri menjaga, dan masyarakat datang berbondong-bondong memberikan dukungan, termasuk Bupati NICA yang datang menyampaikan ucapan selamat.

Sejak saat itu, pemerintahan militer di wilayah Blitar, termasuk Srengat, pun diserahkan kepada TRIP. Bahkan pimpinan Kawedanan Militer (KDM) dipercayakan kepada Mas Isman dari TRIP.


Rakyat Blitar, Mitra Perjuangan yang Setia

Masyarakat Blitar bukan hanya sekadar pendukung, mereka adalah "Strijtmakkers"—rekan seperjuangan sejati pasukan TRIP. Tanpa dukungan penuh mereka, TRIP tidak akan mampu bertahan apalagi menguasai Blitar sebelum gencatan senjata diumumkan.

Wilayah dari Wlingi, Talun, Garum, Blitar kota, hingga Srengat menjadi bagian dari wilayah pengabdian TRIP. Ke utara, pengaruh TRIP menjangkau Nglegok, Penataran, hingga lereng-lereng Gunung Kelud.


Penghargaan TRIP kepada Rakyat Blitar

Kisah perjuangan ini tidak berhenti pada masa revolusi. Pada tahun 1992, keluarga besar TRIP merencanakan reuni nasional di Blitar sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih kepada rakyat. Mereka juga berinisiatif membangun Gedung Perpustakaan Mas TRIP sebagai persembahan untuk kota yang telah menjadi saksi perjuangan mereka.

Selain itu, ketika Gunung Kelud meletus, keluarga besar TRIP segera tergerak untuk membantu. Mereka membuat Dompet Peduli Gunung Kelud sebagai bentuk solidaritas dan pengabdian yang tak pernah putus.


Blitar dan TRIP: Sejarah yang Tak Terpisahkan

Jejak sejarah mencatat bahwa Kota Blitar adalah saksi bisu dari perjuangan anak-anak muda yang memilih mengangkat senjata demi negeri. TRIP bukan hanya kisah pasukan pelajar, tapi adalah kisah tentang rakyat, kesetiaan, keberanian, dan pengorbanan.

Di antara desa-desa seperti Gadungan, Salam, Kedawung, Ponggok, hingga wilayah perbukitan Kelud, kenangan perjuangan itu tetap hidup. Semangat kolaborasi antara tentara dan rakyat menjadi pelajaran berharga bagi generasi penerus.


Penutup: Semangat TRIP, Semangat Rakyat

Mengenang perjuangan TRIP di Blitar bukan hanya urusan sejarah, tapi soal warisan nilai. Gotong royong, nasionalisme, dan kesediaan berkorban demi bangsa menjadi semangat abadi. Kota Blitar bukan hanya tempat pengabdian terakhir TRIP, tetapi juga simbol kekuatan rakyat yang tidak akan pernah padam.


Jika kamu tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang sejarah perjuangan di Blitar atau ingin melihat jejak TRIP secara langsung, jangan ragu untuk mengunjungi Gedung Perpustakaan Mas TRIP dan menyelami semangat kemerdekaan yang hidup di antara buku dan kenangan.